Akhirnya gigiku goyah beberapa hari. Lalu aku bilang sama ibu,”Ibu, gigiku yang bawah ini sudah goyah”. Kata Ibu, akan tumbuh gigi baru. Lalu ibu mengajakku ke dokter gigi untuk diperiksa.
Lalu Sabtu pagi 7 Maret aku terpaksa bolos sekolah. Akhirnya gigiku diperiksa di RS Panti Rapih oleh drg. Stella. Aku tidak takut lho, disana aku langsung copot sepatu dan naik ke kursi ‘pesakitan’ (apa sih nama kursi yg dipake itu ???). Dan dengan santainya aku mengikuti perintah dokter untuk tiduran di kursi tersebut. Lalu oleh dokter Stella, gigiku dikasih es… dannnnnn… gigi yang goyah itu ternyata dicabut !!!
Alhamdulillah aku ga nangis, aku hanya bilang,”Bu, sakit !” sambil ngemut kapas untuk menyerap darah yang keluar dari gusi bekas giginya.
Sampai di luar, aku sempat protes ke ibu: “Ibu bohong.. katanya gigiku ga akan dicabut ..”
Aku bilang begitu karena sebelum ke dokter ibuku bilang bahwa gigiku belum tentu dicabut.
Lantas ibu menjelaskan begini: “Satria, yang tahu gigimu akan dicabut atau tidak kan dokternya, bukan Ibu. Ibu sih penginnya ya gigimu gak usah dicabut. Tapi… gigimu itu dicabut untuk mengantisipasi supaya gigi yang akan keluar nanti tumbuhnya bagus, ga kaya’ gigi Ibu ini.”
Akhirnya aku mengerti dan aku menikmati gigiku yang ompong satu
sampai sekarang (abis yang baru belum nongol-nongol sih)…

yg atas masih ngemut kapas, yang bawah udah ompong satu


Recent Comments